Beberapa Metode Belajar Fisika

Popular
Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 

Metode Ceramah

Dalam pembelajaran fisika komponen yang sering menjadi bahan kajian adalah metode/pendekatan belajar (approach to learning). Selama ini metode yang paling sering digunakan guru dalam pembelajaran fisika adalah metode ceramah, yaitu cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa. Dalam metode ini, guru sangat dituntut kemampuannya dalam mengolah bahan pembelajaran sebelum ditransformasikan melalui ujaran, lisan, dan verbal. Menguasai bahan ajar (mastery of subject matter) sangat penting, karena guru adalah sumber ilmu bagi peserta didiknya. Metode pembelajaran ini dinilai ekonomis, praktis dan efektif untuk menyajikan informasi, konsep ilmu, gagasan, dan pengertian abstrak, terutama dalam mengelola kelas besar dengan jumlah peserta didiknya lebih dari 20 orang.

Metode Ceramah

Dalam pembelajaran fisika komponen yang sering menjadi bahan kajian adalah metode/pendekatan belajar (approach to learning). Selama ini metode yang paling sering digunakan guru dalam pembelajaran fisika adalah metode ceramah, yaitu cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa. Dalam metode ini, guru sangat dituntut kemampuannya dalam mengolah bahan pembelajaran sebelum ditransformasikan melalui ujaran, lisan, dan verbal. Menguasai bahan ajar (mastery of subject matter) sangat penting, karena guru adalah sumber ilmu bagi peserta didiknya. Metode pembelajaran ini dinilai ekonomis, praktis dan efektif untuk menyajikan informasi, konsep ilmu, gagasan, dan pengertian abstrak, terutama dalam mengelola kelas besar dengan jumlah peserta didiknya lebih dari 20 orang.

Menurut Rasyad (2003: 111-112) metode ceramah boleh saja digunakan dalam proses pembelajaran apabila:

  1. guru perlu menyampaikan fakta, informasi konsep tertentu, pendapat atau analisis terhadap masalah yang pernah dibacanya di media cetak atau buku-buku,
  2. guru adalah pendidik yang terampil dalam berkomunikasi (verbal facility), gaya bahasanya memikat dengan penguasaan ilmu yang luas, sehingga merangsang peserta didiknya untuk menyimak,
  3. guru perlu memberikan beberapa kesimpulan atau ulasan mengenai suatu masalah yang krusial, dan
  4. guru memperkenalkan pokok bahasan baru atau mengulangi pokok-pokok dan sari dari bahan pembelajaran yang baru saja selesai ditransformasikan.

Walaupun demikian, metode ceramah dalam pembelajaran fisika mempunyai kelemahan, yaitu membuat siswa menjadi pasif, sehingga banyak siswa yang hanya memahami fisika sebatas definisi-definisi verbal yang akhirnya tidak sampai pada konsep sebenarnya. Seharusnya pembelajaran fisika dimulai dari pengamatan terhadap gejala-gejala dan obyek-obyek yang ditindaklanjuti dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang melibatkan perasaan, pikiran, dan perbuatan. Agar siswa tidak hanya menghafal konsep-konsep fisika, maka siswa perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai.

Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses adalah proses belajar yang berlangsung manakala peserta didik memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak disertai contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Belajar seperti itu merupakan belajar bermakna. Menurut Ausabel (Suparno, 1997: 54), belajar bermakna adalah suatu proses belajar manakala informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Dalam pendekatan ini menurut Ozek dan Gonen (2005: 19), guru perlu mempertimbangkan metode berikut.

  1. Guru menjelaskan suatu permasalahan dan beberapa solusi yang mungkin kepada siswa. Kemudian, siswa diminta untuk memilih solusi bagi permasalahan tersebut. Metode ini cocok untuk siswa yang mempunyai tingkat kognitif rendah dan yang belum dapat meningkatkan keterampilan proses ilmiah di jenjang pendidikan sebelumnya.
  2. Guru menjelaskan suatu permasalahan dan meminta solusi dari siswa. Metode ini cocok untuk siswa yang mempunyai tingkat kognitif sedang.
  3. Guru tidak memberikan penjelasan apapun. Siswa mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya sendiri. Guru hanya berperan sebagai evaluator, sehingga ia memberi umpanbalik ketika siswa telah menyelesaikan tugas-tugasnya. Metode ini dapat diterapkan terhadap siswa yang mempunyai tingkat kognitif tinggi.

Metode Discovery dan Inquiry

Tujuan utama pendidikan fisika adalah mengembangkan individu-individu yang menguasai ilmu. Menguasai ilmu ini meliputi pengetahuan tentang usaha ilmiah dan aspek-aspek fundamental tentang fisika antara lain ialah konsep dan prinsip ilmiah, serta keterampilan inquiry. Memiliki pengetahuan semacam itu adalah esensial untuk membentuk manusia yang menguasai ilmu, tetapi ini masih belum memadai. Pemahaman harus mengikuti pengetahuan, dan pengetahuan harus juga diterapkannya. Individu yang menguasai pengetahuan, memiliki pengetahuan untuk menggunakan asepek-aspek fundamental fisika dalam pemecahan masalah sehari-hari, dan dalam pengambilan keputusan umum atau pribadi. Jadi, menguasai ilmu meliputi pula suatu apresiasi terhadap usaha ilmiah dan aspek-aspek fundamental fisika. Esensi fisika adalah kegunaannya sebagai alat dalam menemukan pengetahuan dengan jalan antara lain observasi, eksperimentasi, dan pemecahan masalah. Hal ini dapat dicapai melalui proses belajar mengajar fisika dengan menggunakan metode discovery dan inquiry.

Carin dan Sund (1980: 74) menyatakan Discovery the mental process of assimilating concepts and principles; learning how to use the mind to discover. Sund dan Trowbridge (1973: 62) menyatakan Discovery the mental process of assimilating concepts and principles in the mind. Jadi, discovery adalah suatu proses mental apabila anak atau individu mengasimilasi konsep-konsep dan prinsip-prinsip, belajar bagaimana menggunakan pikiran untuk menemukan.

Wilson dan Murdoch (2004: 1) menyebutkan The inquiry approach to learning is based on the belief that students are powerful learners who must be actively engaged in the process of investigating, processing, organizing, synthesizing, refining and extending their knowledge within a topic. Jadi, inquiry pada dasarnya menyadari apa yang telah dialami. Inquiry menempatkan peserta didik sebagi subjek belajar yang aktif. Karena itu, inquiry menuntut peserta didik berpikir. Metode ini menempatkan peserta didik pada situasi yang melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Di dalam proses inquiry, siswa tidak hanya belajar menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tetapi ia juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri sendiri, tanggung jawab, komunikasi sosial dan sebagainya. Dengan demikian, melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis, dan kritis.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan guru dalam metode inquiry menurut Suchman (Gunter, 1990: 137-140) adalah sebagai berikut.

  1. a)Selection of the problem and research: menentukan masalah dan metode penelitiannya.
  2. b)Introduce the process to the class: menjelaskan urutan kegiatan kepada para siswa.
  3. c)Gather relevant data: mencari data yang relevan dengan topik yang dipelajari
  4. d)Develop a theory and describe casual relationship: mengembangkan sebuah teori dan menjelaskan hubungan sebab akibat.
  5. e)State the rules and explain the theory: menyatakan hukum-hukum dan menjelaskan teori.
  6. f)Analyze the process: menganalisis berlangsungnya proses kegiatan inquiry.

Metode discovery-inquiry merupakan metode belajar-mengajar fisika yang perlu dikembangkan di sekolah dasar dan menengah. Dari aspek psikologi dan falsafah, mengajarkan fisika dengan metode discovery-inquiry memungkinkan siswa untuk menggunakan segala potensinya (kognitif, afektif, dan psikomotor), terutama proses mentalnya untuk menemukan sendiri konsep-konsep atau prinsip-prinsip fisika, ditambah proses-proses mental lainnya yang memberikan ciri seorang dewasa yang sudah matang atau ciri-ciri seorang ilmuwan, sehingga memungkinkan siswa dapat menemukan konsep diri, kritis, kreatif dan sebagainya.

Praktikum

Salah satu pendekatan pembelajaran fisika yang digunakan dalam metode discovery-inquiry adalah praktikum. Praktikum fisika memegang peranan penting dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran fisika. Seperti yang dikatakan Sund dan Trowbridge (1973: 183), science is not really science unless it is accompanied by experimentation and laboratory work. Sains bukanlah sains yang hakiki tanpa disertai eksperimen dan kerja laboratorium (praktikum). Kegiatan praktikum dapat membangkitkan minat, sehingga timbul motivasi siswa untuk mempelajari fisika. Dalam kegiatan praktikum, siswa memperoleh pengalaman langsung yang berupa mengamati, mengukur, merekam/mencatat, menghitung, dan menarik kesimpulan dari hasil yang diperoleh. Jadi, siswa terlibat langsung secara indrawi (raba, lihat, dengar).

Dalam kegiatan praktikum, guru menyediakan bimbingan dan petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru. Siswa tidak merumuskan masalah. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru. Tahap-tahap kegiatan metode ilmiah dengan metode discovery-inquiry dalam kegiatan praktikum adalah sebagai berikut.

  1. a)Menemukan dan merumuskan suatu masalah.
  2. b)Mengumpulkan keterangan atau informasi untuk memecahkan masalah tersebut.
  3. c)Merumuskan dugaan sementara, berupa dugaan atau hipotesis.
  4. d)Menguji hipotesis tersebut dengan merancang dan melakukan suatu eksperimen atau percobaan.
  5. e)Mengamati/observasi.
  6. f)Mengumpulkan, mengorganisir, dan menganalisis data.
  7. g)Menarik kesimpulan.
  8. h)Menguji kesimpulan tersebut dengan melakukan eksperimen/percobaan lagi.

Dalam pembelajaran fisika melalui kegiatan praktikum, guru lebih berfungsi sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator terhadap proses belajar siswa. Model pembelajaran seperti ini termasuk pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), siswa dituntut untuk berperan aktif dalam menerima informasi yang disampaikan oleh guru. Siswa memperoleh kesempatan seluas-luasnya dalam mengembangkan materi yang disampaikan oleh guru. Siswa memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya, yang berupa keterampilan, intelektual, dan sikap. Jadi, siswa dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang meliputi aspek psikomotorik, berupa: penguasaan alat dan ketelitiannya, pengaturan alat dan bahan yang diperlukan, pengelolaan alat dan bahan yang dipakai. Sedangkan pada aspek afektif siswa dapat mengembangkan sikap kerjasama antar siswa, kerjasama dengan pembimbing (guru). Dalam aspek kognitif siswa menghayati prosedur dan sikap ilmiah.

Menurut Wenning (2005: 7-8) kegiatan laboratorium secara inquiry (inquiry lab) dikategorikan menjadi tiga tipe, yakni: guided inquiry, bounded inquiry, dan free inquiry. Penjelasan ketiga tipe itu adalah sebagai berikut.

Dalam guided inquiry, guru mengidentifikasi permasalahan-permasalahan, dilanjutkan dengan diskusi secara luas. Kemudian, siswa melakukan kegiatan laboratorium mengikuti serangkaian petunjuk hasil diskusi.

Dalam bounded inquiry, guru mengidentifikasikan sebuah permasalahan, dilanjutkan sedikit diskusi. Kemudian, siswa melakukan kegiatan laboratorium berdasarkan langkah-langkah yang disusun sendiri. Mereka diharapkan dapat menentukan hubungan antarvariabel dengan dasar logika.

Kontras dengan dua tipe di atas, dalam free inquiry, siswa mengidentifikasi suatu permasalahan untuk dibuktikan. Mereka membuat desain ekseperimen sendiri. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan sebagai tugas akhir bagi siswa. Dapat juga sebagai kegiatan di luar jam pelajaran bagi siswa berbakat.


LAST_UPDATED2

 

baner


 

 

Info Pengunjung






 
  hit counter