H Thoyib Hidayat: Jangan Sampai Menjadi Orang Miskin

Bantul (MAN 2 Bantul) – “Orang harus pandai memanfaatkan kesempatan dalam hidup”, demikian disam...

Pemilos MAN 2 Bantul menjadi Latihan bagi Pemilih Pemula

Bantul (MAN 2 Bantul) – Pemilihan ketua OSIS (Pemilos) sebagai salah satu hajatan demokrasi pesert...

Kembangkan Potensi Diri, Cegah Nikah Dini

MAN 2 BANTUL – Antisipasi semakin meningkatnya angka pernikahan dini di Kabupaten Bantul, madras...

Hadapi Kelulusan, MAN 2 Bantul Jalin Kerjasama dengan Orangtua Siswa

Bantul (MAN 2 Bantul) – Peserta didik kelas XII MAN 2 Bantul akan segera menempuh ujian kelulusan....

BLK Lakukan Uji Keterampilan Peserta Didik MAN 2 Bantul

  Bantul (MAN 2 Bantul) – Selain mengujikan mata pelajaran untuk bekal Ujian Nasional Berbasis Ko...

Kepala MAN 2 Bantul: Santri Bukan Hanya Mereka yang Belajar di Pesantren

Bantul, (MAN 2 Bantul) – “Santri bukan hanya mereka yang belajar di pesantren”, demikian disampaik...

Pembagian Hasil Belajar Peserta Didik MAN 2 Bantul

Bantul (MAN 2 Bantul) – Pemandangan sedikit berbeda terjadi di MAN 2 Bantul. Pada hari ini, Sabtu ...

Kunjungan Studi MAN 2 Bantul di IAIN Salatiga

Bantul (MAN 2 Bantul) – Peserta didik MAN diharapkan nantinya bisa melanjutkan pendidikan ke jenja...

AMT MAN 2 Bantul Membekali Peserta Didik Menyongsong Masa Depan

  Bantul (MAN 2 Bantul) – Ujian Nasional (UN), Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN), d...

MAN 2 Bantul Selenggarakan Pengajian untuk Jalin Silaturahmi

Bantul (MAN 2 Bantul) – Pendidikan seorang anak memerlukan kerjasama semua pihak. Madrasah sebagai...

  • H Thoyib Hidayat: Jangan Sampai Menjadi Orang Miskin

  • Pemilos MAN 2 Bantul menjadi Latihan bagi Pemilih Pemula

  • Kembangkan Potensi Diri, Cegah Nikah Dini

  • Hadapi Kelulusan, MAN 2 Bantul Jalin Kerjasama dengan Orangtua Siswa

  • BLK Lakukan Uji Keterampilan Peserta Didik MAN 2 Bantul

  • Kepala MAN 2 Bantul: Santri Bukan Hanya Mereka yang Belajar di Pesantren

  • Pembagian Hasil Belajar Peserta Didik MAN 2 Bantul

  • Kunjungan Studi MAN 2 Bantul di IAIN Salatiga

  • AMT MAN 2 Bantul Membekali Peserta Didik Menyongsong Masa Depan

  • MAN 2 Bantul Selenggarakan Pengajian untuk Jalin Silaturahmi

NextPrevious


BEBAN KERJA GURU 24 JAM - BEBAN KERJA GURU 24 JAM

Popular
Indeks Artikel
BEBAN KERJA GURU 24 JAM
beban guru
Semua Halaman

BEBAN KERJA GURU 24 JAM


Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru sebagai pendidik merupakan tenaga profesional. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat profesi pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi dan bagi guru yang telah mendapat sertifikat pendidik akan diberikan tunjangan profesi yang besarnya setara dengan satu kali gaji pokok.

 

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 35 ayat (2) dinyatakan bahwa beban kerja guru mengajar sekurang-kurangnya 24 jam dan sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka per minggu. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan mengamanatkan bahwa guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik, nomor registrasi, dan telah memenuhi beban kerja mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Tidak semua guru berada pada kondisi ideal dengan beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu . Oleh karena itu diperlukan suatu panduan penghitungan beban kerja bagi guru / sekolah / dinas dalam pemenuhan wajib mengajar minimal 24 jam per minggu agar guru yang telah memiliki sertifikat pendidik memperoleh haknya, yaitu tunjangan profesi.

 

Dalam praktik di lapangan masih banyak sekolah yang belum menerapkan UUGD pasal 35 (2), karena banyak yang beranggapan bahwa beban kerja adalah sama dengan jumlah jam pada SK pembagian tugas mengajar, sehingga semua beranggapan bahwa beban kerja 24 jam tidak akan tertapai. Hanya beberapa sekolah yang menerapkan pembuatan SK pembagian tugas mengajar di jadikan satu dengan tugas tambahan, sehingga terlihat dengan jelas beban kerja guru.

Beban kerja guru memang tidak sama dengan beban kerja pegawai kantor lainnya. Walaupun pegawai kantor memiliki jam kerja 40 jam permingu, namun sebagian waktunya banyak dihabiskan untuk bermain game di depan komputer atau bermain catur dengan pagawai lainnya. Seorang guru yang akan masuk kelas selama 2 jam pelajaran pada dasarnya telah melakukan kerja, yaitu mempersiapkan bahan pengajaran dengan membuat RPP.

Tidak mengherankan jika seorang guru telah membuat RPP diperhitungkan kerjanya dalam Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru, karena itu adalah bagian dari pekerjaan profesi. Lagi-lagi kita akan dihadapkan pada suatu pertanyaan, “Apakah semua guru membuat RPP?”. Jawabnya tentu bergantung dari masing-masing guru dan sekolah dalam melaksanakan tugasnya.

Bagi seorang guru yang ingin memiliki dan menggunakan RPP dalam mengajar tidak harus bersusah payah dengan setumpuk buku dan seabreg perangkat lainnya. Sekarang melalui internet dapat diperoleh RPP serta rubrik-rubrik penilaiannya. Seorang guru tinggal melakukan editing untuk adaptasi sesuai dengan kondisi sekolah. Untuk pelajaran Kimia SMA dapat diunduh di http://budies.wordpress.com/unduh/. Sedangkan untuk pelajaran lainnya dapat diunduh di http://gurupkn.wordpress.com.

Selain membuat RPP masih banyak kerja guru lainnya yang diperhitungkan sebagai beban kerja. Tugas-tugas sekolah tambahan seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah, penanggungjawab perpustakaan, dan lain-lain yang dapat diperhitungkan sebagai beban kerja guru. Selengkapnya tentang pedoman penghitungan beban kerja guru dapat diunduh di sini.(format *.RAR) atau disini (format PDF)

Pengembangan diri juga dapat dijadikan sebagai penambahan beban kerja guru. Salah satu contoh pengembangan diri yang diterapkan di SMP Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara adalah, sekolah menyiapkan 15 macam bidang pengembangan diri. Pelajaran tersebut dilaksanakan pada tiap hari Jumat pada jam ke 2-3. Begitu hari jumat, siswa langsung menuju bidang pengembangan diri sesuai pilihannya. Jadi bukan kelas klasikal, melainkan bergabung dalam kelas bidang pengembangan diri.

sumber : http://budies.wordpress.com/2008/08/12/beban-kerja-guru-24-jam/



 

baner